Slide show

[Esai][slideshow]

Suara Guru Honorer: Keterbatasan di Tengah Wabah


Oleh : Imas Nurjanah
Guru MTs. Miftahul Falah

Sudah lama sebenarnya ingin menulis curahan hati ini namun selalu tertunda. Alhamdulillah hikmah dibalik musibah Covid-19 di saat sudah mulai jenuh, kreatifitas pun muncul kembali. Tulisan ini hanya curahan hati semata tanpa berniat membela diri, memihak ataupun memancing pro dan kontra.

Sempat beberapa waktu lalu di media sosial dihebohkan dengan sebuah pernyataan tentang kualitas guru di Indonesia. Tulisan tersebut dimuat dalam sebuah berita yang pernah tayang dalam salah satu situs berita online yang kemudian banyak di-share di akun-akun media sosial. Adalah Indra Charismiadji sang empunya tulisan yang mengatakan bahwa hanya 2,5 persen dari 3 juta guru yang berkualitas. Selebihnya sekitar 7,9 jutaan tidak bisa mengajar dengan baik tuturnya. 

Pernyataan itu tentu saja melukai perasaan para Guru termasuk saya didalamnya. Sebagai individu yang menekuni profesi tersbut, kami merasa bangga. Akan tetapi, ketika profesi itu diragukan kualitasnya sangat wajar jika merasa tersinggung.

Namun disisi lain, saya berusaha berpikir objektif terhadap ungkapan tersebut. Dengan membaca lagi secara lebih seksama setiap paragraf yang muncul dalam tulisan. Lebih lanjut Indra memberikan parameter bahwa kualitas Guru dapat dilihat dari inovasi dan bagaimana cara dia siap mengajar siswa. Hal tersebut ditinjau dari segala situasi, baik kondisi normal maupun abnormal.

Saya merenung menarik nafas panjang dan mencoba mencerna berita tersebut. Meskipun dengan kemampuan otak yang pas-pasan agar dapat berfikir jernih. Berusaha menilai dengan mengesampingkan sentiment emosional.

Saat itu saya putuskan untuk googling, mencari tahu tentang sosok Indra Charismiadji. Berhubung bertempat tinggal di daerah terpencil yang jarang mendapatkan informasi tentang tokoh-tokoh yang ada di Indonesia. Mungkin hanya sebagian kecil dari mereka yang diketahui karena sering diekspos di media baik untuk kepentingan politik ataupun yang lainnya.

Melihat biografi dan latar belakang pendidikan, beliau adalah seorang tokoh Pendidikan Indonesia. Memiliki spesialisasi pada bidang Pembelajaran Abad 21 atau sering juga disebut dengan istilah Edukasi 4.0, Teknologi Pendidikan dan Pengembangan Profesi Pendidik. Melihat fakta tersebut maka wajar beliau menilai kualitas guru berdasarkan inovasi dan penguasaan teknologi. Memang itu lah kemampuannya dan menjadi basik penilaian terhadap guru. Secara akademik, it's not a big deal karena tidak dimasukan sebagai parameter penilaiannya.

Khusus untuk hal yang satu itu saya setuju sebenarnya dengan beliau, karena memang banyak terbukti di lapangan. Masih ada (bahkan banyak -Ed) Guru-guru baik ASN maupun Honorer yang gagap teknologi, salah satunya adalah saya. Padahal di era seperti sekarang kemampuan guru menguasai teknologi adalah suatu keharusan. Ada beberapa dari kami yang memang kurang menguasainya secara profesional, sehingga itu menjadi permasalahan serius ketika kita dihadapkan pada keadaan yang tidak biasa. Seperti keadaan yang terjadi sekarang dengan adanya wabah pandemi Covid-19. Walaupun sebetulnya kualitas guru yang kurang menguasai teknologi itu bukan menjadi alasan satu-satunya.

Masalah di lapangan khususnya di daerah-daerah adalah terkait dengan banyaknya hal lain yang ikut memperburuk kondisi WFH (Work From Home). Hal tersebut yang menyebabkan tidak semua siswa bisa mengikuti pembelajaran daring atau online. Semisal problem klasik yang masih menghantui contohnya layanan jaringan internet dan jaringan listrik yang tidak memadai. Belum lagi faktor ekonomi masyarakat yang tidak semuanya mampu memenuhi kebutuhan internet untuk anak-anak mereka agar dapat mengikuti pembelajaran secara daring.

Berlangganan listrik saja untuk sebagian masyarakat sudah cukup berat, apalagi mungkin kalau berlangganan wifi. Memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja sudah sangat sulit, apalagi harus ditambah dengan membeli paket internet. Hal tersebtu menjadi parah ketika tanggungan anak dalam rumahnya cukup banyak. Masyarakat amat dipusingkan jika dihadapkan pada situasi seperti sekarang? Perlu juga untuk dicatat, Guru-pun (terlebih yang ada didaerah terpencil) merupakan bagian dari masyarakat tersebut.

Berbicara masalah Pendidikan ternyata tidak sesederhana itu, banyak faktor yang dapat mempengaruhi. Dua bulan ke belakang tidak pernah terbayangkan bahwa kita akan mengalami keadaan seperti ini. Siswa dan Guru harus menjalani kegiatan belajar mengajar terpisah WFH (Work From Home). Saya dan mungkin beberapa Guru yang tidak siap dengan sarana dan prasarana, dpengetahuan dan kemampuan teknologi yang mumpuni tentu saja kelimpungan. karena hal ini adalah sesuatu yang baru dalam sejarah pendidikan Indonesia.

Terlepas dari benar tidaknya pernyataan Indra Charismiadji tersebut, PR besar guru untuk mampu meningkatkan kualitas dirinya. Mulai dari diri sendiri, lingkungan sekitar dan akhirnya dapat meningkatkan kualitas siswa. Sehingga kelak ke depan tidak ada lagi penilaian atau pernyataan yang dapat melukai hati dari siapapun atau pihak manapun. Meskipun memang pendidikan bukan tugas dan tanggung jawab guru satu-satunya. tetapi sekali lagi saya tegaskan saya bangga menjadi guru karena kami menjadi salah satu penentu dalam usaha mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

Penulis adalah seorang guru honorer yang mengajar di MTs. Miftahul Falah Selaawi Kabupaten Garut. Sebuah sekolah yang terletak di ujung utara berbatasan dengan Kabupaten Sumedang.
Editor : Muhamad Dadan Nurdani

No comments:

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]