Slide show

[Esai][slideshow]

Rokok dan Perempuan (Berjilbab)


Ilustrasi: Anonim
(Oleh: Yasmin Elhawa)
Beberapa bulan ke belakang, saya membaca sebuah buku yang cukup berkesan hingga mempunyai sudut pandang baru. Bikin mengangguk berkali-kali dan terus berkata, Ah, iya juga”. Betapa selama ini perempuan tidak mudah mengekspresikan diri mereka karena sistem patriarkhal yang melekat dalam keseharian masyarakat. Untuk berekspresi saja, perempuan seperti berada dalam satu ruang demarkasi antara yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dan yang membuat geregetnya, hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh perempuan itu dianggap wajar jika dilakukan oleh kaum laki-laki. Bahkan karena berbuat demikian, kaum laki-laki diakui maskulinitasnya.

Salah satu contoh dari ketidakadilan tersebut adalah kegiatan merokok. Siapa sih yang enggak kenal sama rokok? Benda yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Tidak ada yang aneh dari bentuknya. Kalau rasanya? Belum tahu. Saya enggak pernah nyoba.

Begini, saya punya pengalaman yang kurang mengenakan tentang rokok. Mulai dari asapnya yang membuat dada sesak, sampai dengan bara cintanya apinya yang bikin jaket cantik cacat seketika alias bolong gak ketulungan. Yang merokok bagaimana? Adem-adem saja, tidak berdosa. Dari sana, mulai tumbuh kurang suka dengan perokok. Saya menggeneralisir bahwa semua perokok itu nyebelin dan tidak tahu malu (maaf-maaf sekarang udah enggak).

Pada suatu waktu, saya melihat seorang perempuan duduk sambil menyesap sebatang rokok yang diapit oleh kedua jarinya. Dan yang membuat kaget, bukan hanya karena merasa aneh perempuan merokok, tapi juga karena ia mengenakan kain panjang yang menutupi rambutnya. Sudah perempuan, merokok, pakai jilbab pula. Stigma negatif langung saya layangkan pada perempuan tadi. Perempuan merokok saja sudah tidak pantas, apalagi ditambah pakai jilbab. “Duh mengotori jilbab saja, gak sopan, kurang etis, gak punya malu, kok bisa ya ada cewek kayak gitu?” Begitulah kiranya pemikiran saya saat itu, dimana otak saya masih tersumbat sama yang namanya budaya patriarki dan ‘doktrinisasi’ dari kaum misoginis.

Setelah beberapa purnacandra terlewati  (uwuwuuuu), saya bertemu dengan seorang teman, lalu kami berdiskusi berbagai macam hal. Salah satunya tentang perempuan merdeka dalam artian perempuan bebas memilih. Saat diskusi dengan dia yang kurang ahlak itu (soalnya tiap diskusi suka sakit hati sama dia, sakit hati karena lebih cerdas haha), sedikit demi sedikit mulai sadar, hati luluh dan mulai jatuh cinta berpikir bahwa apa yang selama ini dipahami adalah keliru. Saya ini seorang perempuan, tapi kenapa tega men-judge sesama kaum saya dengan penilaian yang negatif? kok bisa-bisanya menyakiti mereka dengan tuduhan yang enggak-enggak? Duh sesuci apa diri kamu, Yassss? *nangis darah tapi boong.

Setelah beberapa kali ngobrol santai bareng dia yang gak punya ahlak itu, saya mulai mencoba belajar tentang kesetaraan gender dan level kesadaran kemanusiaan. Saya mulai banyak membaca literatur yang berkaitan dengan feminisme dan keperempuanan. Dan betapa terkejutnya bahwa ternyata anggapan selama ini tentang feminisme itu salah, sok tahu, dan gak berdasar karena hanya sekadar mendengar. Ah, jadi ingat apa yang dikatakan Soesilo Toer, bahwa budaya Indonesia adalah budaya dengar bukan budaya baca. Hiks hiks merasa tersindir.

Kembali ke laptop. Salah satu buku yang saya temui itu adalah Perempuan Berbicara Kretek yang ditulis oleh Abni Handayani, dan kawan-kawan. Buku dengan tebal tiga ratus tujuh belas halaman itu membuat saya menemukan sudut pandang baru tentang rokok dan perempuan (berjilbab).

Di Indonesia perempuan yang merokok itu biasanya digambarkan sebagai perempuan yang nakal, tidak benar, sampai diangggap a-moral. Dalam buku ini disebutkan bahwa penggambaran semacam ini dapat kita lihat pada film-film Indonesia dari masa ke masa. Seperti film Taksi di era 90an, dimana Meriam Belina berperan sebagai PSK yang digambarkan dengan berbaju seksi dan merokok. Kemudian di film Virgin misalnya, menggambarkan tiga sosok anak SMA yang “nakal” dan lagi-lagi digambarkan dengan merokok. Selalu saja, merokok dan perempuan digambarkan sebagai bagian dari gaya hidup yang “tidak baik”, “salah”, bahkan “amoral”. Tapi, benar gak sih perempuan merokok itu amoral?

Setelah membaca buku ini saya jadi mengerti bahwa stigma perempuan merokok itu merupakan beyond reality alias penilaian negatif yang melebihi dari realitanya. Saya juga enggak tahu pasti kapan stigma itu dilekatkan kepada perempuan yang merokok. Dan sedihnya, perempuan berjilbab yang merokok mendapatkan stigmatisasi dua kali lipat dari perempuan yang merokok dan gak berjilbab. Kenapa bisa begitu, ya?

Karena banyak yang beranggapan bahwa jilbab merupakan simbol muslimah. Menurut Ahimsa-Putra (dalam Rokok dan Jilbab, 2018) simbol diartikan sebagai segala sesuatu yang dimaknai. Dimaknai karena, makna sebuah simbol tidaklah menempel, melekat atau ada pada simbol itu sendiri. Makna ini berasal dari luar simbol, yakni manusia. Artinya dalam konteks jilbab, kain kepala itu tidak hanya sebatas penutup aurat, tapi juga dimaknai sebagai pengatur perilaku, agar sesuai dengan ajaran agama Islam.

Jika misalkan jilbab itu simbol muslimah dan dikaitkan dengan perilaku agar sesuai dengan “ajaran Islam”, maka begitu pula dengan segala sesuatu atau simbol yang melekat pada laki-laki muslim. Misalnya seperti laki-laki yang memakai peci, sarung, dan lain sebagainya. Mereka harus berperilaku sesuai dengan ajaran Islam pula. Lalu jika dikaitkan dengan rokok, pertanyaannya, kenapa laki-laki yang “dipenuhi” dengan simbol agama dianggap wajar ketika mereka sedang menghisap rokok, sedangkan perempuan berjilbab dianggap tabu? Padahal dua-duanya sama-sama beragama Islam dan menggunakan simbol-simbol agama pula. Hallo, kenapa tidak adil? Kenapa harus pilih-pilih? Padahal setiap manusia —perempuan dan laki-laki-- mempunyai hak-haknya yang sama.
Jadi, amoralkah perempuan (berjilbab) merokok?

2 comments:

  1. Mantap banget nih bacanya ehehe apalagi kalau do'i tau min

    ReplyDelete
    Replies
    1. doi yang mana nih?? soalnya doi ku banyak, hahaha

      Delete

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]