Slide show

[Esai][slideshow]

Review Isi Buku; Bahagia, Kenapa Tidak Part II



Ilustrasi by Faiz Syihab


Identitas Buku

Nama Buku : Bahagia, Kenapa Tidak?

Penulis : Reza A.A Wattimena

Penerbit : Penerbit Maharsa -Yogyakarta

Tahun Terbit : 2015

Halaman : 17 s.d 31

Review 

BAB - Kebahagiaan dan Hidupku

Pembahasan dalam bab ini diawali dengan realitas mahasiswa yang belajar hanya berorientasikan nilai. Mereka mendapatkan nilai yang besar akan tetapi kesadaran dan pengetahuan mereka nol besar. Sebetulnya akarnya sendiri adalah ketakutan mereka terhadap masa depan. 

Masyarakat sebagai penjajah

Disini ditekankan bahwa masyarakatlah yang ikut menentukan pola hidup kita. Akan tetapi menjadi problem yang amat besar ketika kita membutuhkan masyarakat justru yang datang adalah cercaan dan hinaan. Memang benar untuk hidup kita membutuhkan orang lain, baik itu dalam bentuk komunitas seperti masyarakat ataupun tidak. Akan tetapi apakah berhak masyarakat menjajah hidup kita. 

Neraka dan Rasa Takut 

Filsuf Francis Jean Paul Sartre menulis sebuah naskah Huis Clos yang isinya menerangkan tentang neraka yang tidak seperti dalam keyakinan kita. Dia menjelaskan bahwa neraka adalah ketika kita duduk terikat dalam sebuah kursi dan tidak bisa memalingkan pandangan darinya. Diawasi terus, taka da satu detik pun yang lepas dari pengelihatannya. 

Bagi penulis buku hal tersebut terjadi hari ini. Dimana hidup dalam masyarakat yang penuh dengan penilaian sehingga kita tidak lepas dari kriteria yang disampaikan. Kita hidup dalam kacamatan baik dan buruk yang diciptakan oleh masyarakat tersebut. 

Melalui penilaian inilah masyarakat terus memproduksi ketakutan pada diri kita. Sehingga otensitas sebagai manusia kita menjadi terganggu. Jika keadaan ini terus menerus tidak dilampaui kita tidak akan menyentuh hakikat dari manusia itu sendiri. 

Peradaban dan Pilihan 

Jean-Jacques Rousseau mengatakan bahwa manusia dilahirkan dengan kemurnian dan kebaikan hati, peradabanlah yang menyebabkan kita menjadi licik dan rakus. 

Maka untuk untuk kembali kita perlu melihat kepada sedalam-dalamnya diri kita yaitu hati nurani. Sumber keaslian kamanusiaan teletak disana. 

Melampaui Masyarakat 

sebuah proses yang sulit dan rumit untuk dijalani terkadang orang menjadi takut untuk melakukannya. Akan tetapi melihat kedalam hati kita bukanlah sesuatu yang mustahil. Hanya perlu keberanian dan dengan itu kita akan menemukan kebebasan yang sejati seperti yang dilakukan oleh Sidharta Ghautama, Yesus bahkan mungkin ini yang dilakukan Nabi Muhammad ketika di Goa Hira. Proses tersebut merupakan jalana menuju kesejatian, kebebasan dan kedamaian jiwa dalam hubungan yang sejati dengan oranglain. 
 
Hidup Macam Apa?

Sebenarnya kita bisa saja hidup menjadi budak masyarakat, akan tetapi hanya menjadi robot jinak. Meskipun sebenarnya kita telah mati karena telah kehilangan kemanusiaan kita sendiri. Atau pilihan lainya kita melampaui ini semua dengan ancaman hidup kita menjadi singkat seperti yang telah dialami oleh Sokrates dengan mempertaruhkan kesejatiaanya. 



Bab- Kebahagiaan dan Persahabatan 

Pengantar dalam tulisan ini adalah dilema seseorang yang dibesarkan di dua budaya yang berbeda. Beberapa diantara mereka mengangkatnya menjadi sebuah karya tulis ilmiah berupa skripsi. 

Perubahan Dunia 

Perubahan dunia di era global ini yang menuju kepada era teknologi informasi menyebabkan setiap individu bingung dengan identitas. Hal tersebut yang penulis akui karena menjadi seorang perantau di negeri orang. Identitas menjadi sebuah masalah yang mengganggu dewasa ini. 

Krisis Nilai 

Keterasingan dengan semua orang yang ada disekitar menghasilkan kekosongan dan kehampaan. Kita sebagai manusia merasa terombang ambing di berbagai belantara. Sampai pada tidak memiliki arah dan tujuan. 

Masalah Kemudian 

Masalah yang lahir dari kondisi seperti itu adalah kita akan mudah menyerah dan berencana mengakhiri hidup. Pilhan lainnya adalah menjadi hedonis murni dengan mencari kesenangan sessat semata. Pilihan lainnya kita akan menggabungkan diri terhadap komunitas tertentu (organisasi yang tertulis dalam buku) dan cara kita disetir tanpa mampu berpikir oleh kelompok tersebut. 

Mencari Rumah 

Di era teknologi dan informasi seperti sekarang setiap orang pasti mengalami apa yang disebut dengan mencari rumah. Rumah bukan berarti bangunan fisik melainkan sebuah meta-fisik yang lahir bukan melalui kekayaan materi melainkan hubungan yang baik dan erat dengan orang lain. Dengan pendek kat hubungan tersebut biasa disebut dengan persahabatan. 

Persahabatan sebagai Rumah 

Persahabatan adalah sesuatu yang bermutu tinggi kuantitasnya hanya sedikit. Ia lahir dari kebebasa memilih artinya kita bisa menentukannya. Juga dialhirkan dari kesamaan entah itu hobi atau apapun yang terpenting adalah kesamaan visi hidup. Sahabat saling merawat dan saling menyediakan waktu. 

Persahabatan dan Makna Hidup 

Persahabatan merupakan akar dari segala hubungan,karena disana mendapat dukungan dan pengakuan. Pencarian kebahagiaan tidak bisa dilepaskan dari makna hidup dan itu tidak bisa didadapatkan sendirian. Sahabat adalah rumah dan keluarga kita. 

Bab-Kebahagiaan, Ingatan dan Solidaritas 

Diawali dengan pembahasan pembantaian 6 juta orang Yahudi oleh Nazi. Kemudian korban pembunuhan isu PKI di Indonesia yang tidak sedikit juga. Bagi sebagian orang nama-nama yang terbunuh itu tidak berarti, namun apa jadinya bila untuk keluarga dan orang terdekatnya. 

Mayat dan Manusia 

Dalam pristiwa yang keji mayat yang tak dikenali ini senatiasa berjejer dan tak terhitung jumlahnya. Mungkin mereka sudah tidak ada dan terlupakan namun satu hal yang pasti mereka adalah manusia. Mungkinkah kita bukan mahluk yang bermartabat, apalagi citra Tuhan, melainkan hanya sekedar debu yang tak bermakna saja. 

Mayat dan Ingatan 

setiap peristiwa yang menewaskan banyak orang perlu kita kenang, karena hal tersebut menentukan identitas bangsa. Karena ketika dilupakan maka akan ada bagian yang hilang dari identitas bangsa tersebut. Tujuannya adalah agar kita belajar dari peristiwa tragis tersebut supaya hal serupa tidak terjadi di masa depan. Ingatan ini menjadi dasar ikatan, pengalaman bersama dan citra diri kita sebagai suatu bangsa, atau sebagai umat manusia. 

Mayat dan Martabat 

Deklarasi hak asasi manusia menegaskan bahwa setiap orang memiliki martabat yang berharga, yang wajib dilindungi dan dihargai. Dilain sisi manusia hanya salah satu mahluk di samping mahluk-mahluk lainnya, dan alam. Manusia tidak punya status khusus. Ia hanya bagian dari alam semesta yang luas tak berhingga ini. 

Ketiadaan yang Bermakna 

Manusia bermakna, karena ia memiliki nilai untuk orang-orang di sekitarnya, dan juga untuk alam. Namun, ia juga bukan sesuatu yang istimewa, karena ia tak lebih tinggi atau lebih rendah, jika dibandingkan dengan mahluk-mahluk lainnya.

No comments:

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]