Slide show

[Esai][slideshow]

Ramadhanku, Menulis

Ilustrasi by Anonym


Oleh : Dini Rusmiati

Ramadhan kali ini berbeda, ya? Jauh dari keluarga, tidak bisa kumpul bersama, hanya berdiam diri di rumah saja. Bosen, ya? Rasanya ingin sekali merasakan sosialisasi seperti sebelum mewabahnya pandemi. Seperti itulah keluhan mereka di dinding sosial medianya.

Berangkat dari hal tersebut banyak sekali undangan kajian online gratis yang mengajak kita untuk tetap produktif meskipun di tengah-tengah covid-19 yang sedang melanda. Antusiasme yang luar bisa dapat mengisi aktivitas dengan luwes melalui teknologi dan informasi. Tetapi buka itu yang ingin saya sampaikan kali ini. Mari, saya mau mengajak berliterasi dengan pengalaman Ramadhanku Menulis.

Ramadhanku menulis, seperti apa? Seperti yang telah di ungkapkan sebelumnya Ramadhan kali ini yang terasa berbeda, tidak semestinya terus-terusan dijadikan keluhan semata. Lebih baiknya kita jadikan kesempatan diri ini untuk berbenah. Berbenah dari segala resah dan gelisah yang pernah melanda. Mari beranjak, jadikan Ramdhan kali ini lebih bermanfaat.

Kebiasaan dahulu yang sering terjadi banyaknya lupa pada diri, menyia-nyiakan kesempatan bulan yang suci ini, lebih memilih bermain di luar daripada meng-khatam-kan Al-Qur’an. Pada saat ini mulailah kebiasaan itu kita rubah, dengan memanfaatkan segala kesempatan selama di rumah. Memanajemen waktu dengan sebaik mungkin. Kumpul bersama keluarga dan berbagi cerita serta ngabuburit melalui kajian daring. Meski diam di rumah namun ilmu bisa kita dapatkan dari segala arah.

Dengan Ramdhanku Menulis saya ingin mengajak teman-teman di mana pun berada untuk menulis berfaedah. Menulis berfaedah, maksudnya seperti apa? Menulis merupakan kegiatan yang sangat penting dalam Islam. Dapat dibuktikan jika karya-karya terdahulu lahir dari tulisan cendekia muslim yang aktif membawa karyanya yang meningkatkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan serta mengembangkan ilmu-ilmu yang telah ada.

“Ikatlah ilmu dengan menulis.” (Sayyidina Ali bin Abi Thalib)
“Kalau kau bukan anak raja. Dan engkau bukan anak ulama besar. Maka jadilah penulis.” (Imam Al-Ghazali)
“Semua penulis akan mati, hanya karyanya yang abadi. Maka, tulislah yang akan membahagiakanmu di akhirat nanti.”
Kata-kata motivasi menulis dari penulis-penulis yang luar biasa.

Menulis itu tidak hanya dikatakan sebagai bentuk untaian kata yang disajikan oleh coretan tinta ke dalam sebuah kertas. Akan tetapi menulis ini lebih kepada mengembangkan ilmu pengetahuan dan menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan di mana tulisan tersebut dapat berfaedah atau pun bermanfaat bagi penulis atau pun yang membacanya.

Ramadhan kali ini dapat dijadikan kesempatan untuk berbagi kisah yang berfaedah melalui sebuah tulisan. Tulisan tersebut bisa berupa karya sastra atau karya ilmiah. Lalu kenapa kita harus menulis?

  1. Menuliskan lisan dengan mengasah kemampuan berpikir kreatifmu, ungkapan-ungkapan yang biasa kau ucapkan akan jauh lebih bermanfaat jika kau menuliskannya.
  2. Melatih pikiran untuk tetap kritis dan kreatif sehingga menghasilkan inovasi.
  3. Melatih diri agar mampu memanfaatkan waktu luangmu, waktumu tidak terbuang sia-sia begitu saja.
  4. Menulis bisa menjadikan harimu lebih produktif dari biasanya, selain mengkolaborasikan imajinasi dengan ilmu pengetahuan, akan lahir sebuah karya dari ingatan.
  5. Hobbymu lebih bermanfaat dari biasanya, karya-karya yang kau tulis akan mampu memotivasi setiap pembaca.

Banyak sekali manfaat dibalik pertanyaan ”Kenapa kita harus menulis?” di antaranya lima point di atas yang telah disebutkan. Selain itu tentunya untuk menulis butuh motivasi dan inspirasi, bukan? Tentu saja. Kenapa demikian, karena sebuah tulisan tanpa motivasi dan inspirasi itu sulit untuk dikembangkan apalagi bagi penulis pemula yang masih bertanya-tanya apa motivasi dan dari mana inspirasi itu bisa kita dapatkan. Sebenarnya cukup sederhana, motivasi dan inspirasi itu ada di lingkungan sekitar bahkan orang terdekat kita sekali pun. Sadar atau tidak, motivasi dan inspirasi hadir dari orang tua, keluarga dan sahabat. Mentor saya pernah mengatakan, jika 75% tulisan itu mengisahkan tentang perjalanan hidup dan pengalaman. Saya membenarkan, karena saya merasakan apa yang beliau katakan. Pengalaman yang ditulis secara apik akan menghasilkan sebuah karya yang mengesankan. Pengalaman yang dikolaborasikan dengan banyaknya bacaan mampu memberikan ilmu pengetahuan.

No comments:

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]