Slide show

[Esai][slideshow]

Kesehatan Reproduksi Perempuan dalam Kacamata Fiqih



Ilustrasi by Gina

Oleh: Gina Rhahmawati

Menjaga kesehatan reproduksi merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan dan juga kebutuhan manusia, begitupun anak remaja. Kesehatan reproduksi remaja menjadi titik fokus karena kelompok remaja kerap mendapat sikap diskriminasi terhadap informasi kesehatan reproduksi karena masih menganggap tabu pengetahuan seksualitas. Kesehatan reproduksi remaja selain berdampak secara fisik, berpengaruh terhadap kesehatan mental dan emosi, juga keadaan ekonomi dan kesejahteraan sosial jangka panjang. Sebab, masa remaja adalah waktu terbaik untuk membangun pengetahuan kesehatan reproduksi yang bisa menjadi aset penting dalam jangka panjang.

Kesehatan reproduksi sering disalahartikan secara sempit sebagai hubungan seksual saja, sehingga tidak heran jika orang tua atau orang dewasa yang merasa topik pembicaraan reproduksi ini tidak pantas dibicarakan dengan remaja (tabu). WHO mengatakan bahwa kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Menurut hasil ICPD 1994 di Kairo, kesehatan reproduksi adalah keadaan sempurna fisik, metal dan kesejahteraan sosial dan tidak semata-mata ketiadaan penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan proses. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan kesehatan reproduksi adalah sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial, yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi. Maka dari itu, kesehatan reproduksi bukan hanya kondisi bebas penyakit, melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan sebelum menikah dan sesudah menikah.

Dengan demikian, ruang lingkup kesehatan reproduksi cakupannya luas, meliputi; Kesehatan ibu dan bayi baru lahir, keluarga berencana, pencegahan dan penanggulangan ISR (infeksi saluran reproduksi) termasuk PMS (Penyakit Menular Seksual) HIV/AIDS, pencegahan dan penanggulangan aborsi, kesehatan reproduksi remaja, dan berbagai aspek kesehatan reproduksi lainnya. Adapun hak-hak reproduksi perempuan meliputi :

  • Hak seseorang untuk dapat memperoleh kehidupan seksual yang aman dan memuaskan serta mempunyai kapasitas untuk bereproduksi.
  • Kebebasan untuk memutuskan jumlah dan jarak kelahiran anak atau seberapa banyak melakukannya.
  • Hak dari laki-laki dan perempuan untuk memperoleh informasi serta memperoleh aksesibilitas yang aman, efektif, terjangkau baik secara ekonomi maupun kultural.
  • Hak untuk mendapatkan tingkat pelayanan kesehatan yang memadai sehingga perempuan mempunyai kesempatan untuk menjalani proses kehamilan secara aman.
  • Hak atas kebebasan berfikir dan membuat keputusan tentang kesehatan reproduksi. Dan hak-hak lainnya tentang kesehatan reproduksi.


Memang benar bahwa proses reproduksi paling utama adalah mengandung, melahirkan dan menyusui. Tetapi bila kita cermati, dimulai dari menstruasi juga seharusnya perlu mendapatkan jaminan kesejahteraan dan kesehatan. Sebetulnya jaminan ini telah diberikan dalam fiqih islam ketika perempuan sedang menstruasi maupun nifas, mereka diberi cuti reproduksi seperti hubungan seks, dimana jika dilanggar, laki-laki (suami) diharuskan membayar denda (fidyah). Disamping itu, perempuan juga diberikan cuti dari aktivitas beribadah seperti sholat, puasa dll. Semua itu demi menjaga kesehatan fisik maupun mental.

Memilih dan menentukan pasangan juga memiliki implikasi terhadap jaminan keselamatan dan kesehatan reproduksi, baik kesehatan fisik maupun mental, paling tidak melihat dari dua sisi. Pertama, siapa pasangan yang menjadi pendamping kelak. Kedua, menentukan usia berapa akan menikah. Kedua hal tersebut bisa berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental, hal ini juga harus menjadi perhatian semua pihak terutama orang tua, sehingga tidak memberikan justifikasi semena-mena menggunakan hak preogatifnya sebagai wali mujbir. Dalam fiqih, wali mujbir bahkan wali nikah masih diperselisihkan.

Kemudian, ada beberapa isu partikular yang sering dikaitkan dengan isu kesehatan reproduksi dalam islam, sehingga menimbulkan kontroversi. Kh. Husain Muhammad menyebut beberapa isu partikular sebagai berikut:
  • Hubungan Seksual

Hak menolak dan menikmati hubungan seks itu terkait langsung kepada kesehatan perempuan (istri) baik fisik maupun mental, kewajiban perempuan (istri) menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki (suami) tanpa bisa menolak itu mengakibatkan perempuan tidak bisa mengontrol atau mengatur sendiri hak-hak reproduksinya. Ketidakberdayaan perempuan menolak hasrat seksual laki-laki (suami) dapat menimbulkan akibat-akibat kurang baik bagi kesehatan reproduksi. Dewasa ini pandangan kewajiban tersebut selain dilatar belakangi oleh tradisi kerap dilatar belakangi oleh pandangan agama. Penolakan perempuan (istri) dalam perspektif keagamaan tertentu akan diberi stereotip sebagai tindakan kedurkahaan, padahal agama menekankan “mu’asyaroh bil ma’ruf” saling berinteraksi yang baik antar keduanya. Agama juga menekankan agar perempuan (istri) dan laki-laki (suami) itu membangun sama-sama situasi ketenangan, kedamaian jiwa, dan cinta kasih (sakinah, mawaddah, warrahmah). Ketiga hal tersebut akan sulit terwujud jika antar keduanya tidak ada relasi saling memahami, menghargai dan menjaga eksistensi masing-masing, dan hal ini akan berdampak positif pada kesehatan reproduksi perempuan (istri) mana kala mendapat ketenangan, kenyamanan dan keamanan dalam berhubungan seksual.

  • Kehamilan

Kesehatan reproduksi juga terkait dengan kehamilan, kehamilan menurut al-Qur'an itu merupakan proses reproduksi yang sangat berat “wahnan ala wahnin” kepayahan diatas kepayahan-kelemahan yang berganda. Al-Qur'an dalam kaitan ini meminta sebenarnya kepada umat islam untuk memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap proses kehamilan. Semangat tuntunan Al-Qur'an tersebut tidak hanya ditujukan kepada anak-anak untuk berlaku hormat kepada perempuan (ibu), namun juga laki-laki (suami), orang lain dan masyarakat luas dalam memperlakukan perempuan yang hamil dengan penuh perhatian. Karena setiap manusia merupakan anak dari seorang ibu. Terdapat banyak fakta tentang kematian ibu melahirkan disebabkan oleh komplikasi kehamilan yang terjadi dalam proses melahirkan. Secara teknis perhatian tersebut berkaitan dengan beban kerja yang berat, perempuan yang sedang hamil sangat dianjurkan untuk tidak dibebani kerja-kerja berat dan melelahkan.
  • Aborsi

Saat ini semakin nyata fakta bahwa banyak perempuan tidak menghendaki kehamilan atau tidak menghendaki mempunyai anak sehingga terpaksa melakukan aborsi. Banyak faktor yang melatarbelakangi angka kenaikan aborsi, beberapa diantaranya karena seks diluar nikah, pemerkosaan, disamping itu fakta lain menunjukan bahwa aborsi ini kadang dilakukan akibat kegagalan kontrasepsi, ketika perempuan (istri) menggunakan alat KB tetapi mengalami kegagalan, sedangkan ia sedang tidak siap mempunyai anak. Dan ternyata kegagalan kontrasepsi ini menurut beberapa laporan penelitian justru merupakan faktor paling banyak. 

Dari perspektif islam aborsi ini sudah sangat lama mendapat perhatian para ulama. Pada prinsipnya aborsi memang haram dilakukan, namun ada sekian hal dan situasi tertentu yang memperbolehkan aborsi tertentu (keterpaksaan keadaan). Dalam hal ini kemudian para ulama mendiskusikannya, para ulama sepakat bahwa aborsi dapat dilakukan pada usia janin sampai 42 hari atau sekitar 8 minggu. 

Lalu bagaimana pada usia diatasnya, boleh atau tidak? Ini yang menjadi pro dan kontra, perdebatan ini tentu terjadi karena tidak adanya teks agama yang menegaskan hukumnya secara pasti. Keharaman aborsi menurut kesepakatan ulama apabila dilakukan diatas usia 120 hari atau 4 bulan. Tapi meskipun demikian para ulama sepakat bahwa aborsi bisa dilakukan kapan saja, apabila kehamilan tersebut dapat mengancam keselamatan nyawa ibu. Dalam pandangan agama pada keadaan darurat, nyawa ibu jauh lebih penting dibanding keselamatan nyawa janin. Kaidah yang digunakan adalah “jika ada dua ancaman yang membahayakan, maka selamatkan nyawa yang memiliki dampak bahaya paling besar dengan mengorbankan dampak yang lebih ringan”. 

Terkait hal tersebut para ulama sepakat pula bahwa proses aborsi darurat harus dilakukan paling tidak melalui dua syarat. Pertama, bahwa keadaan darurat tersebut harus berdasarkan analisis dan rekomendasi para ahli (dokter kandungan). Kedua, harus ditangani oleh tenaga medis yang berpengalaman dan diakui pemerintah.

  • Khitan Perempuan

Khitan perempuan juga merupakan masalah yang mempengaruhi kesehatan perempuan. Sejak lama para ulama telah membahas dan memperdebatkan masalah khitan perempuan ini, kesimpulannya ada yang mengkategorikan wajib, sunnah, makruh, mubah bahkan haram. Perbedaan kesimpulan ini lagi-lagi tidak ada teks agama yang membahas secara tegas hukumnya secara pasti, sebagaimana pada khitan laki-laki. Nabi Muhammad SAW hanya menyebutkan sebagai kehormatan dan keistimewaan (mengindikasikan bahwa khitan perempuan itu lebih sebagai akomodasi pada tradisi yang sedang berlangsung pada saat itu). 

Bahkan yang menarik pada 24 Juni 2007 di Mesir, dr. Ali Jumah menegaskan bahwa khitan perempuan itu dilarang, fatwa ini juga sebelumnya dikemukakan oleh Sayyid Muhammad Tanthawi di Universitas Al-Azhar, beliau mengatakan bahwa hal ini perlu diserahkan para ahli medis untuk menentukan manfaat dan madharat-nya. Dan saat ini hampir seluruh tenaga medis atau dokter sudah tidak mau untuk mengkhitan perempuan, karena lebih banyak madharat-nya. Inilah keindahan fiqih dan keindahan islam.

Kesehatan reproduksi perempuan bukan sekedar persoalan medis, namun juga merupakan persoalan yang terkait dengan kondisi perempuan secara sosial. Perempuan ketika mengalami masa reproduksi kondisi biologisnya sering kesakitan, maka dalam hal ini diperlukan kebijakan yang empati terhadap kondisi tersebut. Misalnya ada cuti haid, cuti hamil dan cuti melahirkan, jadi perempuan difasilitasi agar pengalaman reproduksinya tidak menimbulkan rasa sakit yang berlebih. Al-Qur'an saja memberikan keistimewaan pada perempuan, ruhsoh ini merupakan ketetapan agama yang diberikan kepada perempuan. Tetapi jangan dimaknai bahwa ibadah perempuan berkurang, ingat! Perempuan tidak shalat, perempuan tidak puasa karena menstruasi atau nifas itu sedang taat pada aturan agama, sebab yang menetapkan itu semua adalah Allah. Ketika kita taat kepada Allah itu juga sama seperti kita sedang beribadah kepada Allah. Artinya, tidak akan mengurangi kualitas ibadah perempuan hanya karena menstruasi atau nifas.

Dalam perspektif fiqih, yang harus diingat setiap problematika itu dikembalikan setidaknya pada dua rujukan. Pertama, pada “maqashid Syariah” tujuan syariah, dimana Imam Asy-Syatibi merumuskan kedalam 5 (lima) hal pokok, yaitu: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga pikiran, menjaga keturunan dan menjaga harta. Maka dari itu ketika kita menjaga kesehatan reproduksi sama artinya dengan kita sedang menjaga “maqashid syariah” ini. Kedua, “Dar’ul mafasid muqoddamun 'ala jalbil mashalih” menolak keburukan-keburukan itu harus lebih diutamakan daripada menarik kebaikan. Artinya, ketika kita memotret kesehatan reproduksi perempuan bukan hanya perspektif medis tetapi pengalaman perempuan juga harus dipertimbangkan agar tujuan syariah tercapai dan paling utama adalah kemaslahatan. Wallahu’alam.


Tulisan inimerupakan kutipan dari hasil diskusi yang diselenggarakan oleh PC IPPNU Kab. Garut bersama Hj. Ai Sadidah (Ketua Fatayat NU Garut)

No comments:

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]