Slide show

[Esai][slideshow]

Indonesia & Persoalan Pubertas Masyarakat


Ilustrasi by Anonym

Oleh: Muhamad Dadan Nurdani

Bulan ramadhan kali ini bertepatan dengan 77 Tahun Indonesia merdeka, jika didasarkan pada hitungan hijriah. Pada saat 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364, dan sekarang kita berada di tahun 1441 Hijriah (meskipun ketika tulisan ini dibuat sudah memasukin fase sepuluh hari terakhir Ramadhan).  Untuk ukuran seeorang manusia itu merupakan sebuah usia yang cukup lanjut. Namun untuk ukuran sebuah negara, banyak yang mengatangan bahwa Indonesia belum cukup dewasa. Jika ukurannya adalah negara-negara yang sudah lebih  dari satu abad merdeka, mungkin Indonesia saat ini ada pada masa puberitas.

Wajar saja sih hitungan itu berlaku, sebab setelah Indonesia merdeka kita dihadapkan pada penjajahan oleh bangsa sendiri selama kurang lebih 32 tahun. Penjajahan yang lumayan cukup sadis, yang mana sampai pada hari ini kasus-kasus kemanusiaannya belum ada yang berani mengungkap. Bahkan mungkin tidak aka nada yang pernah berani mengungkap jika melihat dari kecendrungan sikap mereka yang sedang berpangku jabatan. Padahal bulan Mei ini juga sebagai salah satu bulan dimana serangkaian peristiwa yang memilukan itu terjadi. Bahkan mungkin Sebagian dari kita melupakannya begitu saja seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Kembali pada persoalan bahwa negeriku masih berada pada fase puberitas. Hal tersebut dapat kita lihat dari keseharian masyarakatnya. Layaknya seorang remaja, masyarakat yang pubertas juga memiliki karekter yang kurang lebih sama yaitu; gehgeran atau juga bisa geeran, senang mengikuti tren kelompok, lebih patuh kepada ketua gank-nya ketimbang orang tuanya, susah diatur, over thingking, dan lain sebagainya sebagai bagian dari sifat remaja.

Layaknya seorang yang puberitas atau dalam istilah bahasa sunda Keur Kumincir, seringkali masayarakat kita mudah galau. Sikap gehgeran dan ke-geer-an kerap kali ditunjukan. Contohnya saja, beberapa saat yang lalu tersiar kabar adanya kabar penaikan tarif dasar listrik, sontak kabar itu dihujani cacian kepada pemerintah tanpa dibaca terlebih dahulu dan difahami dengan gamblang dan jelas. Padahal yang dinaikan itu tarif dasar listrik yang non-subsidi yaitu listrik bagi masyarakat yang mampu. Kabar terbaru tentang kenaikan iuran BPJS, sempat-sempatnya teriakan rakyat kecil mau dicekik, padahal kabar yang sebenarnya yang naik itu untuk kalangan kelas atas saja. Jadi rakyat kecil mana yang diperjuangkan padahal yang dinaikan dari orang-orang kalangan elit kok.

Remaja juga biasanya senang mengikuti tren, kalau sedang demam K-Pop kan apa-apa pasti serba korea. Begitupun masyarakat Indonesia yang sedang demam beragama, sampai segala macam mesti dilabeli dengan agama. Melihat ralita masyarakat seperti ini, bagi kaum industri menjadi sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Akhirnya pasar kita dibanjirilah dengan apa-apa yang berlabel syariah, padahal belum tentu juga proses produksinya dan penjualannya menjungjung tinggi nilai-nilai islam. Entah mungkin si Mpunya ide syari’ah ini berselingkuh dengan mereka para pemilik modal di pasar atau tidak. Pokoknya tren ini sedang menjadi-jadi saat ini dan kerapkali menjadi komoditas terbaik ketika sedang adu kontes kecantikan di panggung politik.

Masa remaja biasanya dipenuhi dengan masa dimana kita masuk dalam kelompok-kelompok kecil atau yang biasa disebut dengan gank. Begitupun, dengan masyarakat Indonesia saat ini yang mana sedang berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Seraya kebanggan mereka dengan kelompoknya dan merasa paling baik dan paling benar adalah kelompoknya. Layaknya seorang remaja dalam gank, mereka lebih mendengarkan apa yang disampaikan pimpinannya ketimbang dari suara kata hati dan kebenaran. Entah mungkin diberi serum pencuci otak sehingga yang ada kebenaran adalah apa yang dikatakan pimpinanannya dan yang lain salah. Begitulah kenaifan seorang remaja ketika berada dalam kelompoknya yang padahal berisi nafsu dan amarah.

Ciri selanjutnya seorang remaja adalah mereka cendrung susah diatur dan senang melawan meskipun argumennya menggunakan logika yang ngawur. Kalau kita lihat masyarakat sekarang ya mirip-mirip seperti itulah, contoh real itu hari ini, ketika aturan physical distancing dan PSBB dilakukan masih saja ngeyel. Sampai tenaga medis saja marah dan bilang terserah, kita coba saja cek kota-kota yang diberlakukan PSBB masih banyak kerumunan yang terjadi. Ini tanda anak remaja yang gak pernah mau diatur oleh siapapun, apalagi menyangkut prinsip meskipul bertentangan dengan akal sehat.

Karakter lainnya adalah overthingking, kekahwatiran berlebih atau ketakutan berlebih, begitulah para remaja  berfikir tentan ketakutan mereka. Begitulah masyarakat Indonesia ketika dihadapkan dengan China dan PKI. Seolah-olah mereka itu hantu yang siap membunuh kapan saja, BOM atom yang siap meledak. TKA China menguasai Indonesia menjadi tag line, salah siapa? Sebenarnya ada salah kitanya juga sebagai rakyat kurang daya saing dan daya tawar. Memang China untuk masalah investasi yang jor-joran perlu diwaspadai, tapi jangan lupakan Amerika, dan Negara-negara Eropa yang mengcengkram negara kita. Sampai saat ini Freeport masih dikuasai oleh mereka. Bisnis otomotif dan manufactur mereka yang menguasai negeri kita.

Disamping itu dakwah bahaya laten PKI masih terdengar nyaring di media, padahal yang laten itu kapitalisme dengan khas oligarki. Mereka sudah jelas-jelas merenggut apa yang menjadi milik kita, di Negara yang kaya seperti Indonesia masa air bersih saja harus membeli. Hal tersebut jelaslah ulah kapitalisme yang hendak menprivatkan segala sesuatu, padahal di negeri kita tanah, udara, air tidak boleh di privatisasi. Anehnya PKI lah yang di gembor-gemborkan, sedang kapitalisasi sedang asik bercumbu dan mengambil segalanya dari kita. Dan yang paling mengejutkan khutbah ketakutan terhadap PKI ini di nyanyikan oleh mereka pejabat berdasi yang seharusnya mengayomi bukan menakuti bahkan membodohi masyarakat. Lebih bodoh lagi mereka yang tertipu dengan selubung perselingkuhan antara kapitalisme dan pejabat negeri. Atau yang paling bodoh saya adalah karena membahas hal ini yang jelas-jelas tidak aka nada yang mengerti.

Lepas dari pubertas pastilah dewasa itu datang, masa ini merupakan persiapan kita menuju dewasa. Kritis masyarakat memang belum terbentuk secara sempurna, disamping itu, oknum yang memanfaatkannya sehingga mereka lambat sekali menjadi dewasa. Doktrin perbudakan dan kerinduan untuk dikuasai semakin hari di produksi dengan kemasan yang semakin baru. Namun, lambat laun pasti masyarakat kita akan dewasa meskipun telat dan lama. Namun semua itu perlu kita lawan dan singkirkan, agar kita mencapai martabat sesungguhnya sebagai bangsa.

Keyakinan saya mengatakan bahwa kita akan segera dewasa. Dimana setiap masyarakat menjungjung tinggi nilai-nilai keadilan,kemanusiaan dan yang terpenting adalah mengedepankan pendekatan ilmiah. Saya senantiasa menantikan hari dimana semua itu terjadi, hari dimana kita akan menyakini perbedaan sebagai sebuah keniscayaan, hari dimana setiap warga negara bangga dengan dirinya. Mereka tidak meras lemah dihadapan bangsa lain. Hari dimana kita mengucapkan kita Indonesian dan Kita bisa. Saya selalu berdo’a agar cepat dewasa negeriku.


No comments:

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]