Slide show

[Esai][slideshow]

Catatan Covid-19: Cerita di Balik Fenomena

Ilustrasi by Anonym

Oleh : Ali Ruhiyat
Disetiap aksi pasti ada reaksi, hukum kausalitas tidak bisa dihindari. Pun dengan kondisi sekarang ditengah pandemik Covid-19. setelah kurang lebih selama tiga bulan masyarakat dikurung dirumah melakukan physical distancing untuk menghambat penyebaran Covid-19. Pemerintah pun melakukan berbagai upaya pencegahan covid-19 ini, mulai dari kebijakan social distancing, kemudian diganti dengan physical distancing, lalu ada beberapa kota juga yang menerapkan dan melakukan kebijakan PSBB (pembatasan sosial berskala besar). Jalan-jalan di perkotaan sepi, pasar dibatasi jam operasionalnya, ibadah-ibadah keagamaan dipindahkah ke rumahnya masing-masing, transportasi umum dibatasi bahkan ada yang sampai dihentikan operasionalnya. Itu semua demi menghambat penyebaran Covid-19 agar pandemik ini segera berakhir.

Setelah hampir tiga bulan melakukan PSBB; work from home, study from home, dll.  Realita dilapangan masih banyak masyarakat yang kian hari kian membludak mengisi jalanan, mall-mall, dan tempat-tempat lainnya. Ini diakibatkan oleh respon pemerintah yang sepertinya kurang serius menangani pandemik Covid-19. Bisa dilihat realitanya ketika masyarakat sibuk gotong royong dengan tag-line rakyat bantu rakyat, saling membantu satu sama lain, melakukan aksi-aksi sosial. Seperti yang dilakukan di jogja dengan membentuk solidaritas pangan Jogja dengan mendirikan dapur umum yang nantinya akan membagikan hasil masakannya kepada masyarakat, yang memang sangat terdampak dengan diberlakukannya PSBB. Mahasiswa unsil di Kota Tasikmalaya, melakukan aksi solidaritas membuat bilik disinfektan. Juga beberapa aktivis di Tasikmalaya juga mendirikan dapur umum rakyat dengan menggalang dana solidaritas untuk membantu masyarakat yang terdampak.

Disisi lain ketika masyarakat sibuk melakukan solidaritas kemanusiaan, Pemerintah malah fokus menggodok RUU yang kontroversial. Sehingga menimbulkan kritikan dari elemen masyarakat baik kalangan pemuda, mahasiswa, buruh, tani, nelayan, dan lain-lain. yaitu RUU tentang cipta kerja, apalagi kemarin DPR sudah mengesahkan RUU Minerba yang cenderung tergesa-gesa mengesahkan RUU tersebut, karena menurut kalangan akademisi masih banyak pasal-pasal dalam RUU ini yang bermasalah.

banyak masyarakat yang bertanya-tanya apakah pemerintah serius menangani pandemik Covid-19 ini? Apa yang sebenarnya di prioritaskan oleh pemerintah? Rakyat kah? Atau ada hal lain? Kenapa pemerintah justru malah fokus menggarap RUU yang sudah benar-benar menimbulkan banyak kritikan, disamping mempertegas penanganan pandemik ini? Ini adalah beberapa pertanyaan yang timbul dari benak masyarakat awam setelah sekian lama mengikuti anjuran pemerintah melakukan PSBB atau physical distancing.

apalagi dampak dari pandemi ini banyak buruh-buruh yang di PHK, karena perusahaan tidak sanggup untuk membayar gajih para buruh. Hal tersebut dikarenakan produksinya terhampat oleh pandemik ini. Dilansir dari bisnis.com 25 juta orang diperkirakan akan kehilangan pekerjaannya akibat pandemik covid-19. Tentu saja angka tersebut bukan jumlah yang sedikit. apalagi bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah tidak tepat sasaran. Ditambah masih maraknya praktek korupsi dan nepotisme yang mengakibatkan bantuan sosial tidak sampai sepenuhnya. ditambah kartu prakerja yang menurut beberapa akademisi dan praktis hanya menguntungkan start up dan venture capital-nya.

Melihat berbagai respon pemerintah yang telah disebutkan diatas, rakyat sudah mulai kehilangan kepercayaannya terhadap pemerintah. Pemerintah menyuruh masyarakat untuk mematuhi aturan physical distancing atau PSBB dengan melakukan segala kegiatan dari rumah. Menyuruh masyarakat bahu membahu untuk menolong sesamanya khususnya yang terkena dampak yang signifikan. Menyuruh tenaga medis untuk terus berjuang menyembuhkan yang positif. Menyuruh bersabar agar pandemik ini segera berakhir. tapi pemerintah sendiri kurang fokus dalam hal penanganan percepatan pandemik COVID-19 ini.

Akibatknya dari aksi pemerintah yang kurang responsif tersebut, muncul reaksi dari masyarakat yang memang sepertinya sudah kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah. Sebagai reaksinya banyak masyarakat yang tidak mengindahkan anjuran-anjuran dari pemerintah terkait physical distancing atau PSBB, yang alhasil jalanan yang awalnya sepi kini dipenuhi. Mall-mall yang awalnya tidak ada pengunjung mulai dipenuhi lagi pengunjung. Terminal, bandara, stasiun tak kalah sedak dipenuhi oleh masyarakat. Akibatnya kasus COVID-19 di Indonesia meningkat sangat tajam, menurut berita dari kompas.com kasus COVID-19 pada tanggal 21 mei bertambah sebanyak 973 kasus, ini merupakan kasus tertinggi sejak diumumkannya kasus COVID-19 tersebut.

Meskipun secara objektif, reaksi dari masyarakat ini tidak bisa dibenarkan. Karena ini bukan persoalan percaya atau tidaknya pada pemerintah. Akan tetapi ini merupakan tanggung jawab bersama agar pandemik ini segera berakhir. jika reaksi masyarakat demikian, maka sama saja dengan memperpanjang situasi ini. Kondisi terparahnya memperbanyak korban akibat pandemik COVID-19.

Presiden Jokowi kemarin-kemarin sempat melontarkan statement kepada publik bahwa masyarakat Indonesia harus bisa berdamai dengan Covid-19. Lantas bagaimana masyarakat bisa berdamai dengan covid-19 jika pemerintah sendiripun tidak ingin berdamai dengan masyarakat. Tolong dahulukan dulu kepentingan rakyat, kesehatan rakyat dengan sebenar-benarnya kepentingan. bukan malah mementingkan kepentingan investor dan korporat dengan dalih kepentingan ekonomi. Justru jika ingin mementingkan ekonomi ditengah pandemik ini, yang harus dipentingkan itu bukan ekonomi yang kapitalistik, tetapi ekonomi kerakyatan yang mampu mendongkrak perekonomian masyarakat menengah kebawah, agar masyarakat mampu bertahan ditengah situasi yang terpuruk akibat pandemik COVID-19.

Ini semua harus menjadi introspeksi bersama, dan juga sebagai bahan evaluasi baik dari pemerintah ataupun masyarakat. tak perlu saling menyalahkan, karena ini bukan persoalan siapa kalah siapa menang, tapi ini persoalan kemanusiaan yang taruhannya adalah nyawa. lakukan apa yang mesti masyarakat lakukan, lakukan apa yang mesti pemerintah juga lakukan.

No comments:

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]