Slide show

[Esai][slideshow]

22 Tahun Reformasi Indonesia: Sebuah Refleksi

Ilustrasi by Faiz Shihab


Oleh: Muhamad Dadan Nurdani
Hari ini 21 Mei 2020 tepat dengan 22 tahun peristiwa reformasi di Indonesia. Sebuah catantan sejarah yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan Indonesia. Meskipun catatan tersebut tidak banyak diketahui dan bahkan juga tidak diperkenalkan sama sekali. Pada peristiwa tersebut melibatkan banyak orang dan bahkan merunggut banyak nyawa sampai pada peristiwa puncak.

Satu per satu catatan peristiwa layaknya episode mengiringi kejadian 21 Mei tersebut. Kisah penculikan yang melibatkan beberapa aktifis baik kampus ataupun non-kampus. Sampai sekarang belum ada satu pihak pun yang berencana menyelesaikan kisah dibalik penculikan tersebut. Episode penjarahan masa dan terbakarnya orang disebuah ruko, tidak pernah ditemukan dalang dan motifnya sampai sekarang. Kisah lainnya adalah pemerkosaan dan juga pembunuhan serta merampasan hak berbicara didepan umum.

Hari ini dua puluh dua tahun silam adalah sebuah harapan kehidupan yang lebih baik. Sebagai sebuah lompatan cita-cita untuk meraih kemerdekaan yang hakiki berbangsa dan bernegara. Lepas dari cengkraman rezim otoriter yang menindas dan membelenggu membuat kita bisu. Pada hari itu semuanya menggantungkan harapan agar kehidupan selanjutnya bisa meraih kebebasan berpendapat dan lepas dari dominasi asing. Meskipun kita sadar betul bahwa sampai hari ini, cita-cita dan harapan itu belum dapat kita capai.

Catatan ini bukanlah sebuah analisis kritis, melainkan sebuah ketergugahan hati melihat peristiwa di masa lalu. Karena penulis sadar betul belum begitu banyak informasi yang dimiliki dan literatur yang tersedia. Bahkan mungkin di sekolah-sekolah pun memandang peristiwa hari ini sebagai peristiwa yang tidak begitu penting. Hanya sebatas pengingat untuk generasi muda akan sebuah sejarah yang tidak boleh dilupakan.

Seperti dikutip oleh Reza A.A dalam kumpulan tulisan yang diberi judul Bahagia, Kenapa Tidak? Disebutkan sebuah sejarah yang melibatkan banyak orang tidak boleh dilupakan. Apalagi yang sampai merenggut ratusan sampai ribuan nyawa, karena ketika dilupakan akan ada puzzle yang hilang dari jati diri suatu bangsa. Itulah makna penting kita untuk mengingat apa yang terjadi pada hari ini di masa lalu.

Tulisan ini hendak mengingatkan kembali kalaulah mungkin sebagian dari kita lupa. Peristiwa yang bersejarah sebagai sebuah tampilan dimana masyarakat bersuara. Kekuatan masa yang dimotori oleh generasi muda yang terdidik menumbangkan penguasa yang membungkamnya. Perlawanan yang hanya bermodalkan toa dan suara akhirnya membuahkan hasil. Tumbangnya kekuasaan otiriter yang menindas.

Disini juga tampak jelas peran dari generasi muda yang terdidik. Peran sebagai penyambung lidah masyarakat. Sebuah peran yang dihasilkan dari salah satu yang memegang peran sebagai kontrol sosial. Generasi muda yang memiliki visi pandangan ke depan tentunya tahu harus seperti apa negara ini dibawa dikemudian hari.

Tentunya, bukan hanya prestasi-prestasi tersebut yang harus diingat. Lebih dari itu kita harus belajar lebih jauh target yang masih belum tercapai. Evaluasi terhadap kelemahan-kelemahan gerakan di masa lalu. Kontekstualisasi Gerakan masyarakat dahulu dengan kondisi sekarang untuk menghasilkan kondisi yang lebih mantap dan ideal. Pekerjaan rumah yang teramat banyak ini sangat sayang sekali tidak kita tidak hiraukan.

Bukanlah pekerjaan yang mudah memang untuk mewujudkan cita-cita besar pendahulu kita. Diperlukan disiplin yang ketat, latihan dan pembelajaran yang terus menerus. Apalagi jika melihat realitas hari ini, generasi muda digerogoti oleh virus konsemerisme hedonistik yang lebih mengedepankan ego sentris dan kesenangan. Selanjutnya yang kita hadapi adalah persoalan generasi muda yang terlalu di nina bobo-kan kemudahan sehingga minim pemikiran yang kritis.

Keadaan tersebut memang tercipta dari kultur pembelajaran kita yang dogmatis. Terlalu banyak menghafal lupa bertanya bahkan kepada diri kita sendiri. Tidak mudah memang memiliki pisau analisis yang kritis, diperlukan struktur paradigma yang telah terbangun. Disamping itu, keadaannya diperparah dengan  rendahnya budaya membaca kita. Alhasil, degradasi intelektual generasi muda menjadi sebuah pekerjaan rumah yang ada didepan yang harus dihadapi.
Gerakan yang baik tercipta dari manusia yang bermutu. Hal tersebut mau tidak mau harus melibatkan pendidikan yang bermutu, Pendidikan yang membebaskan dan mencerahkan. Bukan pendidikan yang membelenggu dan membisu



No comments:

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]