Slide show

[Esai][slideshow]

Masih Pentingkah Belajar Filsafat ?

ilustrasi by atap literasi
oleh: M Dadan N 

Berawal dari sebuah obrolan kecil melalui yang biasa dilakukan. Seorang teman bertanya tentang sebuah pertanyaan, yang menurut saya sangat sulit untuk dijawab dengan akurat. Pertanyaan tersebut adalah “dewasa ini masih penting kah kita membaca dan memahami pengetahuan tentang filsafat?”. Pertanyaan tersebut sangat wajar hari ini untuk dipertanyakan, karena kita ketahui bersama setiap pelajaran yang dijumpai di SMA tidak pernah ada pembahasan sampai ke arah sini, bahkan diberbagai perguruan tinggipun hanya segelintir yang mengupas dan membahas akan hal ini. 

Tentunya disini saya tidak akan berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Kita akan coba dekati bersama persoalan tersebut silahkan anda sendiri sebagai pembaca yang memberikan tanggapannya. Sebetulnya dapat kita lihat berbagai sudut dari persoalan tersebut. 

Bisa kita lihat adalah masalah hasrat akal manusia. Dengan hal tersebut dikatakan bahwa manusia menjadi makhluk paling sempurna di muka bumi. Namun demikian, akal terluar manusia menuntunnya kepada keserakahan jika tidak dibentengi dengan akal budi. Hasrat manusia inilah yang memberikan kekuatannya untuk hidup dan terhubung dari generasi ke generasi. Cara hidup, budaya, pengetahuan merupakan rentang hasrta manusia untuk hidup. 

Hasrat akal manusia sama halnya dengan keinginan manusia untuk hidup. Selama itu ada akankah manusia puas dengan apa yang diketahuinya? Adakah yang sanggup menahan godaan keinginan mengetahui yang di luar dari separuh pengetahuan yang dimilikinya. Pertanyaannya selanjutnya apakah manusia akan puas dengan jawaban-jawaban terikat pada sesuatu yang ada dan telah pasti mereka ketahui. Bukankah mereka juga terkadang menginginkan jawaban alternatif yang justru kadang menjadi jawaban yang selama ini mereka cari. 

Ilmu pengetahuan positif yang digandrungi sekarang pada mulanya hanyalah sebuah pemikiran spekulatif khas filsafat. Namun semuanya memisahkan diri dari filsafat dan menjadi ilmu pengetahuan yang otonom setelah merumuskan batasan dan sistematikannya. Satu yang tersisa dari filsafat terkait semua ilmu yang pengetahuan yang independen adalah asumsi dasar. 

Persoalan lainnya sanggupkah manusia berfikir dalam batas? Batas disini berarti dalam cakupan adalah cakupan masalah yang ditetapkan dalam pengetahuan ilmiah ala positifisme. Tidak akan adakah manusia yang berusaha keluar dari batas itu sendiri. Disamping itu kebenaran yang berarti positif ini selalu mendorong manusia untuk terus meragukannya. Pemikiran spekulatif yang keluar dari batas semacam oase untuk keadaan seperti itu. Namun memang tak menutup kemungkinan ada orang yang lebih suka merayap dalam tempurung. Terlalu takut untuk melihat sesuatu dari jarak dan sudut yang berbeda. 

Disamping ini juga setiap ilmu pengetahuan memiliki ukuran batasan yang dalam sejarahnya setiap pemikir yang ingin memajukan ilmu tersebut bukan hanya mempelajari melainkan berusaha mendorong lebih jauh batas tersebut. Pertanyaannya apakah sudah cukup mapan ilmu pengetahuan yang independen sekarang untuk menjawab persoalan manusia hari ini dan masa depan. Ini mungkin problem selanjutnya untuk mempertanyakan apakah pemikiran spekulatif ini perlu atau tidak untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.. 

Sebetulnya topik yang kita bicarakan tidak mengenal batasan sehingga sulit untuk memberikan kejelasan yang se terang-terangnya terkait pertanyaan yang mendasar masih pentingkah berfilsafat. Karena memang berbicara filsafat ini sebuah topik yang sangat sulit untuk didefinisikan, sehingga memberikan jawaban kepada penanya ini pun sangat sulit. 

Penting atau tidaknya memepelajari cara berfilsafat para pendahulu kita mungkin itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab. Atau pertanyaannya berguna atau tidak hal tersebut untuk kehidupan itu akan menghasilkan jawaban yang amat subjektif yang pasti semua manusia pasti pernah berfikir yang spekulatif atau memproduksi pikiran yang keluar dari batas yang ada. 

Hanya yang perlu diingat sesuatu yang tidak kamu sukai bukan berarti sesuatu tersebut tidak penting dan tidak perguna di semesta ini. Penilaian itu biarlah hanya sebuah penilaian subjektif tidak mesti dipaksakan terhadap orang lain.

No comments:

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]