Slide show

[Esai][slideshow]

Kota Tua



Oleh: Herlina S. Agustina
Matahari sudah agak meninggi rupanya. Angin riuh menggusur daun sampai di teras rumah, dan ku saksikan rinduku belum usai.

Aku berfikir untuk berangkat ke Jakarta siang ini, tak tau untuk apa, tak punya tujuan yang pasti, yang jelas aku akan menemui seseorang yang selama ini membuatku tersiksa karena menahan rindu, dia tak pulang hampir tiga bulan. Alasannya selalu sama, sibuk bekerja, atau tidak, dia menghabiskan waktu untuk tunduk pada bosnya. Sekalipun di luar jam kerja.

Sebelumnya aku tidak memberitahu dia bahwa aku akan pergi ke sana menemuinya. Sengaja, biar menjadi kejutan.

Berongkoskan dua ratus ribu rupiah, aku memberanikan diri untuk bisa sampai di sana. Nekad memang, tetapi ya sudah. Semoga Tuhan melindungi ku, dan rinduku yang sempat hilang. Perjalanan dari garut ke Jakarta sekitar delapan sampai sepuluh jam-an. Sesekali di tengah perjalanan ku usahan untuk membaca buku. Lumayan, ini sedikit mengurangi rasa keruh. Bagaimana tidak, aku layaknya seorang reformis yang kehilangan akal. Mencari jalan keluar dari kompleksnya percintaan. Padahal, ruangku masih terlalu sempit untuk berbagi ketulusan. Ku hitung ruas patah selama perjalanan ini, berkali-kali, yang ku temui hanyalah bayangan tanpa diri, dan ku lihat cahyanya telah pergi.
“sudah sampai mbak”
Demikian dirinya membawa rindu pada dua buah cangkir dengan poletan Halmahera di sisi-sisinya, berisikan kopi. Sambil memandang haru langit yang kian kelabu. Hanya kami berdua. Menikmati senja yang tersisa.
“mau tambah lagi kopinya, nyonya?” katanya sedikit mengoconiku.
“tidak usah, Tuan. Nanti bertambah pula rindunya” ujarku tersipu
“ah apalah arti sebuah rindu bila jarak semakin dekat, kemari cangkirnya”
Belum penuh cangkir terisi kopi, tiba-tiba angin bersemilir masuk mencium kulitku. Berterbanganlah debu yang kian using. Dan serasa beku seisi ruangan.
“ayo masuk” ajaknya sembari membereskan cangkir dan teko.
“biar ku bantu”
“tidak usah, besok ku antar pulang. Ya”
“kenapa?” tanyaku heran
“kota tua tak lagi panas terik berdenting” katanya menutup rindu.

No comments:

Silahkan diapresiasi

prosa

[Prosa][stack]

Perempuan

[Perempuan][grids]

Resensi

[Resensi][btop]